Web
Content
Media standard penggunaan web
content
Arsitektur Website adalah suatu
pendekatan terhadap desain dan perencanaan situs yang, seperti arsitektur itu
sendiri, melibatkan teknis, kriteria estetis dan fungsional. Seperti dalam arsitektur
tradisional, fokusnya adalah benar pada pengguna dan kebutuhan
pengguna. Hal ini memerlukan perhatian khusus pada konten web, rencana bisnis,
kegunaan, desain interaksi, informasi dan desain arsitektur web. Untuk optimasi
mesin pencari yang efektif perlu memiliki apresiasi tentang bagaimana sebuah
situs Web terkait dengan World Wide Web.
Model pembelajaran generatif
1. Pengertian Pembelajaran
GeneratifPembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative
Learning (GL). Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995.b:1), pembelajaran
generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada
pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan
yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji
dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait.
Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka
pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang.2. Landasan
Teoritik dan Empirik Pembelajaran GeneratifPembelajaran generatif memiliki
landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai
belajar dan pembelajaran. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut
teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995.a: 1-2),
diantaranya adalah : a. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi
jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu
proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru.b.
Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu
daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Seseorang
belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut.
Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam
tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, tetapi dapat menyelesaikannya
jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa.c. Penekanan pada
prinsip Scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar
dan pemecahan masalah. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal,
dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada
mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. Jadi, mahasiswa
sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks, sulit, dan realistik kemudian
dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.d.
Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Top-down berarti
mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan autentik
untuk dipecahkan. Dalam proses pemecahan masalah tersebut, mahasiswa
mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan
masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih
mampu.e. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. Meskipun jika
kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa, tetapi mereka harus melakukan
operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi
itu masuk ke dalam pemahaman mereka.f. Menganut visi mahasiswa ideal, yaitu
seorang mahasiswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam
belajar.g. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang
efektif dan motivasi, serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas
terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri, maka kemungkinan sekali mereka
adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar.h.
Sejumlah penelitian (Slavin, 1997: )yang menunjukkan pengaruh positif
pendekatan-pendekatan konstruktivis yang melandasi pembelajaran generatif
terhadap variabel-variabel hasil belajar tradisional, diantaranya adalah :
dalam bidang matematika (Carpenter dan Fennema, 1992), bidang sains (Neale,
Smith, dan Johnson, 1992), membaca (Duffi dan Rochler, 1986), menulis (Bereiter
dan Scardamalia, 1987). Penelitian Knapp (1995) menemukan suatu hubungan
positif pendekatan-pendekatan konstruktivis dengan hasil belajar.3. Tahapan
Pembelajaran GeneratifLangkah-langkah atau tahapan pembelajaran generatif
menurut Katu (1995. b:5-6), terdiri atas 5 tahap dengan penjelasan sebagai
berikut :a. Tahap-1 : PengingatanPada tahap awal ini, dosen menuliskan topik
dan melibatkan mahasiswa dalam diskusi yang bertujuan untuk menggali pemahaman
mereka tentang topik yang akan dibahas. Mereka diajak untuk mengungkapkan
pemahaman dan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan
dengan topik tersebut. Mereka diminta mengomentari pendapat teman sekelas dan
membandingkannya dengan pendapat sendiri. Tujuan dari tahap pengingatan ini
adalah untuk menarik perhatian mahasiswa terhadap pokok yang sedang dibahas,
membuat pemahaman mereka menjadi eksplisit, dan sadar akan variasi pendapat di
antara mereka sendiri. Untuk membuat suasana menjadi kondusif, dosen diharapkan
tidak akan menilai mana pendapat yang “salah” dan mana yang “benar”. Yang perlu
dilakukan adalah membuat mereka berani mengemukakan pendapatnya tanpa takut
disalahkan. Sebaiknya pertanyaan yang diajukan dosen adalah pertanyaan
terbuka.b. Tahap-2 : Tantangan dan KonfrontasiSetelah dosen mengetahui
pandangan sebagian mahasiswanya, dosen mengajak mereka untuk mengemukakan
fenomena atau gejala-gejala yang diperkirakan muncul dari suatu peristiwa yang
akan didemonstrasikan kemudian. Mereka diminta mengemukakan alasan untuk
mendukung dugaan mereka. Mereka juga diajak untuk menanggapi pendapat teman
satu kelas mereka yang berbeda dari pendapat sendiri. Dosen diharapkan untuk
mencatat dan mengelompokkan dugaan dan penjelasan yang muncul di papan tulis.
Secara sadar dosen mempertentangkan pendapat-pendapat yang berbeda itu. Setelah
itu dosen melaksanakan demonstrasi dan meminta mahasiswa untuk mengamati dengan
seksama gejala yang muncul. Dosen perlu memberikan kesempatan kepada mereka
untuk mencerna apa yang mereka amati, akan merasa terganggu dan mengalami
konflik kognitif dalam pikirannya. Setelah itu barulah dosen menayakan apakah
gejala yang mereka amati itu sesuai atau tidak dengan pikiran mereka. Dengan
menggunakan cara dialog yang timbal balik dan saling melengkapi, diharapkan
mereka dapat menemukan jawaban atas gejala yang mereka amati. Dalam hal ini
dosen menyiapkan perangkat demonstrasi, tampilan gambar, atau grafik yang dapat
membantu mahasiswa menemukan alternatif jawaban atas gejala yang diamati.c.
Tahap-3 : Reorganisasi Kerangka Kerja KonsepPada tahap ini dosen membantu
mahasiswa dengan mengusulkan alternatif tafsiran menurut fisikawan dan
menunjukkan bahwa pandangan yang dia usulkan dapat menjelaskan secara koheren
gejala yang mereka amati. Mahasiswa diberikan beberapa persoalan sejenis dan
menyarankan mereka menjawabnya dengan pandangan alternatif yang diusulkan
dosen. Diharapkan mereka akan merasakan bahwa pandangan baru dari dosen
tersebut mudah dimengerti, masuk akal, dan berhasil dalam menjawab berbagai
persoalan. Diharapkan mahasiswa mulai mereorganisasi kerangka berpikir mereka
dengan melakukan perubahan struktur dan hubungan antar konsep-konsep. Proses
reorganisasi ini tentu membutuhkan waktu.d. Tahap-4 : Aplikasi KonsepPada tahap
ini, dosen memberikan berbagai persoalan dengan konteks yang berbeda untuk
diselesaikan oleh mahasiswa dengan kerangka konsep yang telah mengalami
rekonstruksi. Maksudnya adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
menerapkan pengetahuan/keterampilan baru mereka pada situasi dan kondisi yang
baru. Keberhasilan mereka menerapkan pengetahuan dalam situasi baru akan
membuat para mahasiswa makin yakin akan keunggulan kerangka kerja konseptual
mereka yang sudah direorganisasi. Pelatihan ini dimaksudkan juga untuk lebih
menguatkan hubungan antar konsep di dalam kerangka berpikir yang baru mengalami
reprganisasi.c. Tahap-5 : Menilai KembaliDalam suatu diskusi, dosen mengajak
mahasiswanya dalam menilai kembali kerangka kerja konsep yang telah mereka
dapatkan.4. Beberapa Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran GeneratifDalam
melaksanakan pembeljaran generatif,menuru Sutrisno (1995:3), dosen perlu
memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :a. Menyajikan
demonstrasi untuk menantang intuisi mahasiswa. Setelah dosen mengetahui intuisi
yang dimiliki mahasiswa, dosen mempersiapkan demonstrasi yang menghasilkan
peristiwa yang dapat berbeda dari intuisi mahasiswa.
Web anotation
Sebuah penjelasan web anotasi secara
online terkait dengan sumber daya web, biasanya sebuah halaman web. Dengan
sistem penjelasan Web, pengguna dapat menambah, mengubah atau menghapus
informasi dari sumber daya Web tanpa memodifikasi sumber daya itu sendiri.
Penjelasan dapat dianggap sebagai lapisan di atas sumber daya yang ada, dan ini
lapisan penjelasan biasanya dilihat oleh pengguna lain yang berbagi sistem
penjelasan yang sama. Dalam kasus tersebut, alat anotasi web adalah jenis
perangkat lunak sosial. Untuk sistem anotasi teks berbasis Web, lihat teks penjelasan.
Web penjelasan dapat digunakan untuk tujuan berikut:
1. untuk menilai sumber
daya Web, seperti dengan kegunaannya, user-keramahan, kesesuaian untuk dilihat
oleh anak di bawah umur.
2. untuk meningkatkan atau
menyesuaikan isinya dengan menambahkan / menghapus materi, sesuatu
seperti wiki.
3. sebagai alat kolaboratif,
misalnya untuk membahas isi dari suatu sumber daya tertentu.
4. sebagai media kritik seni
atau sosial, dengan memungkinkan pengguna Web untuk menafsirkan, memperkaya atau
memprotes institusi atau ide-ide yang muncul di Web.
5. untuk mengukur hubungan
antara fragmen transien informasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Mesin_pencari_web
Tidak ada komentar:
Posting Komentar